RITME PIKIRAN: BAGAIMANA MUSIK MENGUBAH SUASANA HATI DAN OTAK KITA?
Hi Liders! Apakah kalian suka mendengarkan musik? Genre musik apa yang biasanya kalian dengarkan?
Seperti yang kita ketahui, musik beserta lirik di dalamnya sangat digemari oleh sebagian orang. Tidak hanya sebagai hiburan, musik juga merupakan salah satu bidang profesi yang sangat berpengaruh dalam bidang seni.
Tanpa kita sadari, setiap musik yang kita dengarkan dapat 'memanipulasi' suasana hati, emosi, hingga pola pikir kita. Saat kita mendengarkan musik, kita biasanya akan merasa bahagia ataupun sebaliknya. Entah karena instrumen dalam musik yang dapat membuat kita menari, atau bahakan menangis karena lirik dalam musik yang sangat relate dengan apa yang kita alami. Semua itu merupakan dampak emosional yang dialami seseorang saat ia mendengarkan musik. Efek ini dapat terjadi karena musik mampu dapat melepaskan zat kimia tertentu dalam otak yang secara langsung memengaruhi emosi, baik itu senang dan bahagia ataupun sedih dan tertekan.
Ketika kita mengunjungi restoran, toko buku, ataupun tempat perbelanjaan seringkali musik dimainkan sebagai pelengkap suasana sesuai dengan tempatnya. Hal ini menyebabkan efek dari 'manupulasi' musik dapat terjadi kapan dan dimana saja.
Studi yang diterbitkan dalam Frontiers im Psychology menyebutkan bahwa, mendengarkan musik secara reseptif dan internasional ditemukan dapat mengurangi rasa sakit melalui perubahan gairah fisiologis. Tanpa batasan umur, musik dapat meningkatkan hubungan sosial dan suasana hati dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan pasien rumah sakit. Melalui kemampuan kognitif (kemampuan otak untuk berpikir, belajar, dan mengingat) bernyanyi bersama dapat membantu meningkatkan kesejahteraan bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan mental, penyakit paru-paru, stroke, dan demensia.
Dalam komponen produksi musik, tempo dan ritme merupakan dua hal penting untuk membangkitkan emosi manusia. Tempo yang cepat cenderung membuat orang yang mendengarkan musik menjadi semangat, sedangkan tempo yang sedang ataupun lambat biasanya digunakan untuk membuat musik yang dapat didengarkan ketika bersantai atau bahkan bersedih. Sama seperti aturan tempo, ritme juga dapat mempengaruhi emosi seseorang sesuai dengan cepat atau lambatnya ritme yang digunakan.
Musik memengaruhi emosi karena getaran suara yang ditangkap telinga dan diteruskan ke otak, khususnya area limbik yang mengatur emosi, serta hipokampus yang berperan dalam memproses ingatan. Otak manusia secara alami merespon ritme, melodi, dan harmoni sebagai sinyal emosional yang bisa menenangkan, memotivasi, atau membangkitkan kenangan tertentu.
Sekarang Liders jadi tahu nih mengapa musik secara tidak langsung dapat memanipulasi pikiran kita.
Jadi, Liders lebih suka mendengarkan musik ketika senang atau saat sedih?

Komentar
Posting Komentar